Dilanjutkan prestasi di tingkat Kabupaten Pelalawan, lalu di Tingkat Propinsi Riau. Selain itu, Yuni juga meraih juara Dua untuk Olimpiade Olahraga dan Seni Nasional (O2SN) di Provonsi Riau pada Juni 2008 lalu. Prestasi lain juga berhasil diukir oleh Yuni pada saat mengikuti olimpiade catur “ 4th World School Chess Championship 2008” di Singapura bulan July lalu. Yuni mengantongi medali PERUNGGU untuk perseorangan dan medali EMAS untuk tim INDONESIA.
Yuni dan ayahnya di undang oleh tukang perintah (Depdiknas) untuk mengikuti upacara detik2 Proklamasi di istana Merdeka 17 Agustus lalu, sebagai satu dari 11 anak berprestasi. Sehari setelah upacara, Yuni bersama anak teladan dan berprestasi lainnya bertemu langsung dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Ani Yudhoyono, dan Kabinet Indonesia Bersatu di JIEXPO, Kemayoran, Jakarta.
Namun. Seusai upacara, panitia tidak lagi bertanggung jawab atas “keberadaan” mereka di Jakarta, karena kata panitia yang ber”tanggung jawab”, “kehadiran Yuni di acara kepresidenan itu tidak ditanggung panitia”. Staf Direktorat Pembinaan TK-SD Departemen Pendidikan Nasional yang ber”tanggung jawab” itu menambahkan bahwa “Yuni sudah diberi tahu soal itu”, lalu ditutup dengan cuci tangan yang Gilang gemilang “Seharusnya ini tanggung jawab Pengurus Daerah Percasi Riau” Yuni dan ayahnya sudah empat hari tiga malam menggelandang di Jakarta tanpa tahu bagaimana caranya pulang ke Riau.Menyedihkan. Panitia memberitahu kepada seorang anak umur 11 tahun, bahwa kehadirannya tidak ditanggung panitia. Saya tidak tahu bagaimana caranya panitia memberitahu, tapi kemungkinan besar Yuni tidak mengerti bahwa dia hanya akan “digunakan” selama diperlukan dan sesudahnya “terserah Anda”. Kalau panitia menjelaskan dengan sejelas-jelasnya, sudah pasti dia akan memberitahu orang tuanya dan pasti si ayah tidak akan mau repot-repot mengantar ke Jakarta, karena toh sudah jelas akan terlunta-lunta.
"Sekarang saya kapok main catur lagi. Kalaupun mau main, karena saya suka," ucap Yuni menyesal.Sumber: Keboijo
Apa sih susahnya memulangkan Yuni ke Riau (setelah prestasinya sebagai pecatur tingkat Dunia yang membawa nama Bangsa INDONESIA), toh provinsi Riau gak jauh2 amat dari Jakarta, harga tiket pesawat hanya 300-500 ribu saja (mustahil para Penjabat Depdiknas, kementrian dengan anggaran terbesar di negeri ini kehabisan Uang untuk itu), Maskapai Penerbangan komersil milik pemrov Riau (RIAU AIRLINES) juga Berkali-kali singgah ke Kota JANCUKARTA itu dalam sehari semalam.Sepertinya ini masalah yang sangat sepele, begitu menurut Wakil Ketua DPRD Riau (Djuharman Arifin) yang mengaku heran dengan kejadian yang menimpa atlet muda berprestasi itu. Padahal, menurut Djuharman, jika ada undangan resmi dari presiden, pastinya segala sesuatunya telah diatur dengan baik. "Kita juga heran, kok dari Riau saja yang terlantar yang lainnya tidak. Ini juga menjadi tanda tanya besar, kok bisa kayak gini. Masalahnya sih saya rasa sepele, tapi kalau sudah begini kan menjadi besar," keluhnya. Djuharman juga segera menghubungi perwakilan Riau yang berada di Jakarta agar dapat segera memulangkan mereka ke Riau.
Dan begitulah Para tukang perintah di negeri ini yang tidak mampu memberikan sekedar penghormatan atas prestasi yang diraih seorang Yuni Veronika, Semoga Yuni tidak benar-benar kapok main catur lagi untuk Mengharumkan Nama Bangsa ini.Tentang Yuni Veronika :
- Veronika Kalahkan Master Rusia
- Koran Tempo
- Forum Detik
- Telantar di Posko PDIP
- Detiknews
- Pelajar Riau Raih Perunggu di Kejuaraan Catur Dunia



